Ads 468x60px

<>

Sample Text

Text Widget

Recent Posts

Unordered List

Definition List

Download

Senin, 15 April 2013

Sejarah Rebana Indonesia

Syrakal 1 st
Deskripsi Rebana

     Rebana, Genjring, Kencer atau yang dalam kosakata bahasa Inggris disebut  Tambourine [Membranophone] adalah alat musik tepuk, pukul, perkusis, dan Islamis.  Terbuat dari papan kayu pilihan, kemudian dibulatkan dan dilobangi  menggunakan mesin bubut bertenaga listrik, serta didesain secara khusus. Sisi lobang sebelah dipasang kulit kambing yang sudah disamak putih, sedangkan lobang yang lain digunakan untuk pegangan tangan. Dengan keterampilan, keahlian serta kesabaran dalam
penggarapannya, maka akan menghasilkan salah satu karya seni Islami dalam bentuk alat musik Islamis bernama Rebana. Dan jika dipukul, akan keluarlah nada suara nan khas.
     Instrumen rebana yang bagus adalah yang bersuara jernih, tidak fals, dan tentu saja, berpenampilan kilap serta ekslusif. Karena rebana termasuk salah satu jenis seni kerajinan_ seperti halnya seni kerajinan lain,  yang semestinya dibuat secara halus, ekslusif dan dengan jiwa seni pula.

Sejarah Rebana di Kaliwadas

     Eksistensi rebana Kaliwadas-rebana Bumiayu, Jawa Tengah, bermula dari keuletan bapak Madali (alm.) dan bapak Toip (ayah kami) dalam membuat alat musik Islami ini pada era 1940 - 1950-an. Saat itu pembuatan rebana bisa dibilang masih terbatas dan hanya sebagai pengisi waktu luang, disela-sela kesibukan mereka bertani. Pembeli dan penikmat suaranya yang khas pun masih sebatas orang-orang berusia tua  dan di daerah terdekat saja. Jenisnya saat itu hanya ada dua macam, yakni Rebana Syrakal ( Diba ) dengan diameter 36-39 cm dan Jawa Klasik yang konon warisan kreasi Sunan Kalijaga, yang terbuat dari Glugu atau kayu Kelapa.  
     Pembuatan badan Rebana ( kluwung ) dan Jawa saat itu masih menggunakan cara manual dan tradisional, yaitu dengan menggunakan Tatah ( pisau khusus ) untuk mendesain dan melobanginya. Itu pun masih bekerja sama dengan seseorang yang berasal dari daerah Jatilawang, Banyumas. Baru pada era 70-an orang tua kami mulai merancang pembuatan bodi Rebana dengan menggunakan mesin bubut bertenaga kaki (digenjot).
     Pemasaran rebana, pada zaman itu, masih menggunakan cara tradisional. Yakni mengedarkannya dengan cara dikelilingkan dari kampung ke kampung, dari pintu ke pintu oleh para bakul (marketing) di wilayah Jawa Tengah saja. Terutama daerah Brebes, Tegal, Pekalongan dan Banyumas. Juga sebagian kecil wilayah Cirebon, Jawa Barat.

Sejarah Rebana Kaliwadas di Jakarta

     Lambat laun seni kerajinan rebana mulai bergaung jauh ke mana-mana, sehingga seorang saudagar ( pengusaha ) dari Tasikmalaya bernama H. Sulaeman ( alm. ) datang berkunjung pada tahun 1970-an. Beliau adalah pemilik toko perhiasan atau pernik-pernik dari laut  di depan musium Bhahari jalan Pasar Ikan Jakarta. Begitu menyaksikan keuletan dan kerajinan ayah kami yang notabene pembantu bapak Madali dalam membuat rebana, maka kemudian beliau mengajaknya bekerja sama dengan membuka usaha sendiri, memberikan modal gratis, serta memasarkan produk rebananya lewat tokonya, yang terletak di jalan menuju makam keramat Luar Batang Al-Habib Husein bin Abu Bakar Al Aydrus itu.  Kelak toko H. Sulaiman diberi nama toko Setia.
     Nah, dari toko rebana Setia inilah akhirnya Rebana Kaliwadas-Rebana Bumiayu yang notabene asli produk Toip, mulai dikenal luas. Sehingga lahirlah Sentra Rebana Kaliwadas produk Toip di Jakarta. Dan, rupanya antusiasme masyarakat Islam Jakarta khususnya pada seni rebana begitu besar, sehingga dua pengusaha lain di pasar Ikan kemudian ikut-ikutan memasarkan  alat musik yang lebih dikhususkan sebagai pengiring sholawat ini.  Bahkan toko musik di wilayah Jakarta lainnya serta luar Jawa mayoritas mengambilnya dari sini.
     Sekarang tiga toko di jalan Pasar Ikan Penjaringan, Jakarta Utara itu pengelolaannya sudah pada generasi ke II masing-masing. Produk Toip pun kini pengelolaannya sudah diberikan pada anak-anaknya dengan membawa merek masing-masing, tanpa menghilangkan nama Toip di belakangnya. Selain rebana Syrakal dan Jawa Klasik, alat musik yang dibuat dan dijual kini sudah banyak dan beragam, antara lain : rebana Hadrah Simtudh-dhurar al-Habsyi atau al-Banjari, versi HabibSyech, Salafudin ( Pekalongan ), Variasi atau Mapsi (Mata pelajaran dan seni Islam), Diba dengan berbagai versi, Bass, Jidur, Keprak, Qasidah (Lasqi), Samrah, Hajir Marawis, aneka Gendang, Drumband, Marching Band, bahkan Bedug mesjid, Musholla dan Mimbar pun telah kami produksi sendiri.

Market Rebana Solichin Toip

     Puncak kejayaan rebana berlangsung pada era presiden KH. Aburrakhman Wahid (Gusdur) pada tahun 1999 hingga sekarang. Saat itu saya baru satu tahun mendirikan usaha sendiri dengan membentuk badan usaha  " Suara Tunggal Bahana "  yang baru di daftarkan di Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Brebes pada tahun 2010 yang lalu, sebagai sebuah perusahaan perorangan.
     Berbeda pada awal-awal kami masih membawa nama Toip yang langsung kami kelilingkan sendiri hingga daerah kuningan, Jawa Barat, sekarang market kami sudah jauh lebih baik, dengan mengajak kerja sama toko musik-toko musik lain (selain di daerah Jakarta), Koperasi Pesantren, para pelatih, dan individu-individu dari berbagai kalangan di seluruh wilayah Indonesia. Selain yang memesan lewat jaringan kami, lebih banyak para pembeli alat musik produk Solichin Toip yang datang langsung ke rumah ( tempat usaha ) atau memesannya via situs http://www.solichin-toip.com dan komunitas Facebook kami.

Apresiasi Televisi Nasional Trans7 dan Televisi Lokal RCTV Cirebon

    Produk Suara Tunggal Bahana dengan label Solichin Toip alhamdulillah telah dikenal luas dan diakui kualitasnya. Di tengah persaingan pengrajin lain di luar  label Toip yang jumlahnya sudah puluhan orang dan dengan harga yang lebih murah ( baca : murahan, Red. ), kami tetap bertahan dengan Kualitas, Kuantitas, Harga dan Layanan berbeda. Sehingga televisi nasional Trans7 berkenan memilih dan mengangkat profil kami dalam acara Laptop Si Unyil pada 21 April 2010 yang lalu. Dan pada Ramadhan 1431 H. yang lalu juga televisi lokal RCTV Cirebon  berkenan  bekerja sama dengan kami dalam mengadakan lomba Kontes Genjring Ramadhan 2.      
    Kini, pula, karena terkenal dengan kualitasnya dan banyak dicari pecinta rebana dan pecinta sholawat, maka tidak sedikit beredar produk Solichin Toip aspal alias asli tapi palsu. Bahkan tak sedikit oknum-oknum yang mengklaim sebagai bapak Toip, Solichin Toip atau saudara-saudara kami yang lain untuk meyakinkan calon pembelinya !

Salam !

2 komentar:

Gilbert Singgih mengatakan...

sy mau pasang iklan di blogx gan
hub sy 08990688471

Solichin Toip mengatakan...

Maaf, kami tdk melayani pemasangan iklan. Trims.